• Sarana promosi yang efektif, jangkauan luas dan kualitas audio jernih
  • Pendengar yang loyal dan tersebar luas di eks Karesidenan Banyumas,
  • Format musik Dangdut dan Campursari dengan konten bahasa kngapak has jawa mBanyumasan

Pemasangan Iklan Telp. 0281-634007, WhatsApp. 0812 2323 0387 

Tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional. Peran radio begitu besar ketika Indonesia merdeka dan pada masa revolusi fisik.Selain sebagai hiburan,

radio berperan sebagai sumber informasi penting.

Kini, era radio telah bertransformasi menjadi lebih modern. Teknologi yang dibutuhkan untuk akses radio lebih maju. Radio bisa diakses menggunakan smartphone berbasis jaringan data internet.

Peringatan Hari Radio Nasional dikaitkan dengan berdirinya Radio Republik Indonesia pada 11 September 1945.

Dilansir dari situs RRI, perkembangan radio di Indonesia diawali oleh Batavia Radio Vereniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia (kini Jakarta). Seiring berjalannya waktu, radio terus berkembang dan bermunculan.

Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) mulai berdiri di Jakarta, Bandung dan Medan. NIROM mendapatkan suntikan dana yang segar dari pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu.

Setiap masyarakat yang mempunyai pesawat radio, harus memberikan "pajak radio" kepada NIROM. Hasilnya, radio ini tumbuh menjadi radio yang besar dan lengkap pada masa itu.

Setelah Jepang mengambil alih Indonesia, radio-radio siaran Jepang mulai berkumandang di Tanah Air. Selain untuk memberikan informasi, siaran radio juga sebagai propaganda Jepang untuk Indonesia.

Namun, ada juga radio Jepang yang kesempatan banyak untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, jauh lebih berkembang dibandingkan zaman penjajahan Belanda

Jawatan radio swasta akhirnya dibekukan dan disatukan dalam satu komando Hoso Kanri Kyoku, yang merupakan pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta.

Cabang-cabangnya yang dinamakan Hoso Kyoku terdapat di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malanng

Selain itu, Hoso Kyoku juga mempunyai cabang kantor di kabupaten-kabupaten untuk menyiaarkan programnya kepada masyarakat.

Bom Hiroshima dan Nagasaki menjadi tanda runtuhnya Jepang atas Indonesia. Berkat informasi radio, akhirnya Indonesia bisa segera merealisasikan kemerdekaanya melalui momentum proklamasi. Akhirnya Hoso Kyoku dihentikan siarannya tanggal 19 Agustus 1945.

Situasi semakin mendesak ketika siaran-siaran radio memberitakan bahwa tentara Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera. Ditambah lagi, pihak Inggris akan melucuti senjata Jepang.

Menanggapi berita itu, orang Indonesia yang aktif di radio menyadari bahwa perangkat komunikasi ini merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.

Perwakilan delapan bekas radio Hosu Kyoku berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon, Jakarta. Muncul nota kesepahaman, salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat.

Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tak mudah terputus dalam pertempuran.

Radio Republik Indonesia (RRI) akan meneruskan penyiaran dari delapan stasiun di Jawa, mempersembahkan RRI kepada Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI.

  • adm_meggi200x160.jpg
  • dj_dodo200x160.jpg
  • dj_rurun200x160.jpg
  • dj_sri200x160.jpg

TIRTA KENCANA HOTEL PARTNER